Akhirnya Lyla dan lainnya menemukan markas duyung itu. Markas itu terletak di sekitar hutan karang yang terletak di kegelapan bagian danau yang paling dalam. Markas itu dijaga oleh 2 orang duyung yang membawa tombak trisula dan tameng yang transparan, yang sepertinya terbuat dari Mid water magic, Hydro Master. Lyla cs bersembunyi dibalik salah satu karang yang cukup besar, mereka terpaksa berbicara dengan sangat pelan, meniadakan MP (yang berarti tidak bisa menggunakan sihir), dan memakan Gillmint, semacam tumbuhan mint yang menumbuhkan insang dan meningkatkan kecepatan bergerak dalam air. Mereka melakukanya karena disini adalah markas utama para duyung dan bisa saja raja para duyung disini bisa mendeteksi sihir dengan En.
Akibat meniadakan MP mereka hanya bisa berharap dengan rencana mereka, rencana yang dibuat oleh Reky dan Lyla. Reky mengangkat jarinya, “Bagaimana? Kalian sudah siap?” Semua mengangguk dan menggenggam senjata masing-masing. Reky dengan kusarigama yang sabitnya diambil dari tulang ikan, rantainya dari sea thorn, dan pemberatnya dari batu karang kecil. Lyla membuat tombak dari sea wood, Silva membuat kapak kecil dari batu karang yang diasah, Jimmy percaya diri dengan tinjunya, dan Nana membuat dua pedang dari sea wood.
Reky menjelaskan rencananya sekali lagi kepada semua orang, “Dengar, rencana ini murni tanpa sihir sama sekali. Jadi semua tergantung kepada kekuatan dan ketrampilan kalian semua dengan peralatan masing-masing.” Nana nyengir, “Hihi aku tak percaya kalau permainan perang-perangan kita dulu waktu masih Tk bisa bermanfaat pada saat seperti ini.” Yang lain mendesis kepada Nana, “Shhhht.” Nana menundukan kepala sambil menggaruk-garuknya.
Reky kembali menjelaskan, “Begini, sebelumnya aku takkan menyangka bahwa hanya aku yang memegang senjata jarak jauh dan Jimmy yang tidak bisa memakai senjata. Kalau kalian tahu, aku yang ahli main caturpun bahkan tidak pernah menemukan situasi buruk seperti ini—ini seperti kehilangan kedua benteng, satu kuda, menteri, dan satu luncur.” Yang lain menunduk lesu.
“Tapi bukan berarti skak mat tidak bisa dilakukan. Hanya dengan pion, satu kuda, dan satu luncur, kita bisa mengobrak-abrik penjaga itu,” Mereka mengangguk, Reky melanjutkan, “caranya adalah dengan memanfaatkan secara penuh kuda kita, yaitu Nana.”
Reky menggambarkan suatu peta situasi di pasir, “Ini posisi kita dan ini karang-karang yang digunakan sebagai persembunyian.” Reky melukis 5 titik dan banyak bulatan, dia memberi titik itu masing-masing nama; Reky, Nana, Lyla, Jimmy, dan Silva. Titik Reky paling tersembunyi dan jauh dia dikelilingi oleh banyak bulatan. Sementara itu letak titik Lyla, Jimmy dan Silva berdekatan dan diantara bulatan-bulatan mereka berada terdapat celah yang cukup lebar. Titik Nana berada di tengah-tengah celah itu, agak jauh dari posisi titik Lyla, Jimmy, dan Silva.
Reky bergumam, “Posisi Nana ini ide Lyla.” Lyla tersenyum dan mengangguk. Segera setelah Reky beres memberikan sentuhan terakhir—menggambar titik kedua penjaga—ia menangkupkan tangan dan memandang yang lain, “Sampai sini kalian sudah tahu kan?” semua mengangguk.
“Bagus, jadi begini rencana kita...” Reky menjelaskan jalannya rencana dengan teliti dan sangat pelan. Terakhir dia menunjuk Nana, “Nana, kau sudah siap untuk menerima skenario terburuk kan?” Nana mengangguk dan berbicara, “Semuanya demi temanku!” Reky tersenyum, “Bagus, jadi rencana bisa kita mulai ya?” Semuanya mengangguk, kecuali Jimmy. Jimmy mengangkat tangan bertanya, “Rey? Baru didepan gerbang aja udah gini, gimana didalamnya?”
Reky terdiam sejenak, “...Begini Jim. Kau tahu kenapa kita kemari?” Jimmy mengangguk, “Tentu saja untuk menolong teman-teman kita kan?” Reky balas mengangguk, “Ya, karena itu kita juga tidak boleh sampai mati. Karena jika kita mati tidak ada lagi yang bisa menolong teman-teman kita. UNTUK itu rencana-rencana rumit seperti ini pun akan terus ada sampai kita bisa menemukan mereka dan kembali dengan selamat.” Jimmy mengangguk pelan.
“Ayo!” Reky mengajak mereka untuk menuju ke posisi masing-masing menunggu, menunggu hingga Nana memulai pergerakan rencana. Semuanya menegang mereka berkonsentrasi pada suara, mata mereka kosong menatap apapun yang berada di hadapan mereka. Akhirnya tanda dari Nana segera datang, Nana berteriak dengan kencang. Mendengar teriakan yang begitu kencang otomatis kedua duyung penjaga itu segera mendatangi arah suara, mendatangi Nana.
Kedua penjaga itu meluncur dengan cepat ke arah Nana. Nana menyilangkan pedangnya menahan terjangan duyung itu. Taaaak! Pedang beradu tombak, Nana dan kedua duyung itu saling menahan senjata masing-masing. Duyung yang satu mundur kebelakang dan kemudian memutari Nana, menyerangnya dari belakang. Sambil menahan tombak dari duyung pertama dengan pedang di tangan kanan dia menangkis serangan dari belakang dengan tangan kiri, serangan berhasil ditangkis. Memanfaatkan kesempatan duyung pertama melepaskan tekanan. Karena tangan kanannya yang sedang menahan tekanan terlepas, dan tangan kirinya sedang sibuk menangani duyung kedua, Nana terpeleset.
Nana menjatuhkan tangan kanannya kebelakang dan mengangkat kakinya keatas, jungkir balik, “(Gawat!!)” Nana panik, kedua duyung itu sudah menyiapkan tombaknya untuk ditusukan. Saat seperti itu kusarigama muncul dan mengikat kedua duyung itu. Sret, sret, dan kedua duyung itu tidak dapat bergerak sama sekali. Ketiga orang yang bersembunyi di karang langsung keluar dan menghajar habis kedua duyung sampai mengambang tak berdaya. Kemudian Kusarigama ditarik kembali.
Silva, Nana, dan Lyla bersorak sorai. “Yeeaaah!! Kita berhasil mengalahkan duyung-duyung itu!!” Nana bersorak. “Heh, rasakan ketajaman tombakku!” Lyla memandang rendah kearah duyung-duyung itu. Silva meninju telapak tangannya dan tersenyum menang. Jimmy menyilangkan tangan memandang penuh kemalasan kearah ketiga orang itu, “Oi kalian! Jangan kira ini akan selesai begitu saja. Di dalam kan masih ada lagi hal-hal semacam ini.” Lyla melirik Jimmy, “Ya memang tapi jangan lemes dulu dong. Baru juga langkah pertama.” Nana tersenyum dan mengangkat jempolnya, “Ya, betul itu!!”
“KALIAN a—ukh!!” teriakan Reky melenyapkan keceriaan mereka semua dan mereka segera menyiapkan kuda-kuda masing-masing. Suasana sangat tegang dan mereka mencemaskan Reky setengah mati, terutama Lyla. Mereka saling berbisik satu sama lain. Nana melirik Lyla, “Kira-kira ada apa sampai Reky memanggil dan sepertinya ia dalam kesulitan?” Silva juga berbisik sambil tetap memasang penjagaan, “Lyla apa kau ada rencana B? Takutnya kalau ternyata musuh bukan cuma dua duyung itu saja.” Silva memutar kapaknya.
“Hmm... hal itu yang paling tidak kuharapkan dan kukira tidak akan terjadi. Hal itu, Reky dan aku pikir juga kita tidak akan bisa menghadapinya. Silva dan Nana mengeratkan genggaman mereka disenjata masing-masing. Jimmy menikam keheningan dengan kata-katanya, “Seperti katamu Lai, kita tidak akan bisa melawan jumlah sebanyak itu.”
“Hah bicara apa kau?” Lyla menoleh kearah Jimmy, Jimmy melihat keatas terbelalak. Lyla mengikuti arah pandanganya dan melihat sejumlah duyung mengintai mereka dari atas. Lyla membuka mulut berniat berteriak tapi tak ada suara yang keluar. Nana berbisik, “Lai apa yang—“ Lyla meneruskan ucapannya yang tersendat, “BERPENCAR!! BERTAHANLAH JANGAN MENYERANG! AKU AKAN MELIHAT KEADAAN REKY!!”
Mereka semua mempersiapkan senjatanya masing-masing. Para duyung itu ada 12 duyung dan masing-masing dari mereka memakai tombak trisula. Para duyung itu meluncur begitu saja begitu mendengar teriakan Lyla salah seorang diantara mereka berteriak, “Trlrldak arlkran krlami briarlkan!” Taaaak!! Hantaman pun terjadi antara duyung dan anak-anak. Silva dan Nana bisa mengimbangi namun Jimmy yang tidak memakai senjata hanya bisa menghindar, “Siaaaal! Heeeaaaaah!!” Jimmy menonjok salah satu duyung tepat dimukanya sampai memar, duyung itupun pingsan dan mengambang, tapi setelahnya seorang duyung mengejarnya. Sementara itu jalan Lyla dihalangi oleh dua duyung dan Lyla melawan mereka dengan sengit. Kedua duyung penjaga itu diangkut oleh teman-teman mereka
Akhirnya keadaan sudah dapat ditentukan, Nana melawan 3 duyung, Silva melawan 3 duyung, Jimmy melawan 1 duyung, dan Lyla melawan 2 duyung. Jumlah duyung yang telah dikalahkan baru 1 oleh Jimmy. Sementara itu yang paling kesulitan melawan para duyung adalah Lyla, penyebabnya karena sulit melawan tombak dengan tombak, apalagi lawan Lyla ada dua. Lyla sedang melawan duyung yang didepan lalu yang dibelakangnya melawan dan Lyla harus berbalik kemudian yang didepanya melawan kemudian berbalik lagi. Lyla kemudian dipersulit dengan jangkauan tombak yang cukup tajam, dia terkena beberapa luka kecil.
“Sial kalau begi—akkh!” Lyla terserempet lagi dari belakang. “wrlhrawhrawhra! Khrau arhlkarn mhrati mherndrerita!!” Kata duyung yang didepan sambil menusukan tombaknya. “Aku-tidak-akan-kalah dari kalian!!” Lyla menangkis, saat itu duyung yang dibelakang menusukan tombaknya, Lyla berputar dan menangkis lagi, dengan tidak menunggu duyung didepan menusukan tombaknya dia berputar terus dan kemudian membuat serangan berputar yang sangat cepat. Sampai tombaknya seperti cakram dan dirinya seperti gasing besar. Seusainya putaran itu kedua duyung itu terbelah menjadi dua atas dan bawah, mati.
Lyla menghela napas, kelelahan. “Hhh, hhh. Mereka,” dia melihat kedua duyung itu, melihatnya terbelah, “Mati... Sekarang tinggal menyelamatkan Reky. Tunggulah Reky aku akan datang.” Lyla kemudian datang ke karang dimana Reky berada, disitu dia melihat Reky menancap di karang tertusuk Trisula, tepat di perutnya, darah bercampur dengan air . Lyla terbelalak dan menghampiri Reky, Lyla menangis “Re-Reky i-ini bercanda kan? Reky! Kau! Jangan Mati! Jangan dulu mati! Kau! Kau berjanji akan menjadi guardianku kan? Kau berjan—“ Reky memotong, “Aku-belum, ukh, mati bodoh.” Lyla terbelalak dan memeluk Reky, “Reky!! Kau belum mati!”
“Ukh, jangan erat-erat! Aku- hh, hh, terluka cukup parah.” Reky mengeluh kesakitan, memang kelihatan kalau lukanya sedikit menganga, tiga mata tombak itu tidak menancap dengan baik. “Ah maaf! Apa mau kusembuhkan saja? Kalau sudah begini kau bisa mati! Mau tidak mau akan kupakai sihirku!!”
“Jangan! Ukh, nanti saja setelah kubereskan masalah ini baru kau gunakan sihirmu.” Reky menolak. “Masalah yang mana? Kalau kau nekat menyelesaikan semua ini kau akan berakhir jadi makanan ikan. Sekarang ini masalahnya adalah kau! Aku akan menggunakan sihirku!!” Lyla mengarahkan tangannya kearah luka Reky, Reky menepis tangan Lyla, “Bodoh!! Akh, nnnh,” Reky merintih kesakitan, “Kalau kau sekarang menggunakan sihirmu para duyung itu mungkin akan datang semuanya kesini pada saat ini!! Nanti saja kau gunakan sihirmu saat kita sudah membereskan yang di daerah si, ukh!!!” Reky makin merintih kesakitan. “Sudah, jangan bicara lagi aku mengerti maksudmu. Tapi aku juga tidak bisa menunggu sampai teman-teman membereskan duyung lainnya. Dan lagi, belum tentu mereka bisa menang, malah kemungkinan besar mereka akan berakhir sepertimu melawan segitu banyak musuh. Aku harus melakukan sesuatu!!”
Reky mengangguk dia berkata sesuatu dengan rintih, “be-gini saja, kau lepaskan dulu penghalang ini dan-aku akan menolong mereka.” Lyla merinding, “Mele-paskan trisula ini?? Kau bisa mati kalau begitu.” Wajah Reky mengeras, “Kalau tidak begitu teman-teman bisa mati!!” hening sejenak kemudian Lyla mencabut trisula dari perut Reky, darah mengucur dengan deras. “AAAAAAAGHHH!!!” Reky menjerit tertahan, dia merintih serintih-rintihnya, dia mengambil kusariagamanya didekat pasir “De-dengan begini aku bisa melempar kusarigama lagi.” Reky memutar-mutar kusarigamanya dan melirik Lyla, “Dengar setelah ini kau harus menolong teman-teman.” Reky melempar Kusarigamanya. Kusarigama nya memantul-mantul di karang-karang, “Butuh waktu supaya susunannya terbentuk. Setelah susunannya terbentuk kau—“ Reky ambruk dan darah makin deras keluar dari perutnya, “Lyla menganga, “REK—si-sial! Aku tidak bisa berteriak,” airmata Lyla mengucur deras, “Aku-aku akan menunggu sampai rencana ini selesai untuk menyembuhkanmu. Makanya, hikz, ja-jangan mati dulu Reky.” Kemudian Lyla langsung pergi menuju medan pertarungan.
Di medan pertarungan ternyata anak-anak lebih unggul, terutama Nana, dari tiga musuh dia sudah mengalahkan dua orang, sisa musuhnya tinggal satu orang. Sementara Silva membunuh satu dari tiga orang, dan Jimmy masih berkutat dengan musuhnya seorang.
“Sial!! Ah brengsek! Sampai kapan kau mau menempelku hah!!?” Jimmy melayangkan beberapa tinjuan ke arah duyung musuhnya. Musuhnya ternyata ahli mengelak, semua tinjuan Jimmy dielakannya dan kemudian membalas dengan tusukan telak di dada Jimmy, Jimmy tak bisa menghindar dia sedang melayangkan tinju tanpa pertahanan. “(Celaka, habis sudah!!)” saat seperti itu tiba-tiba duyung itu terbelah dua dengan pasti, yang melakukannya adalah Lyla.
“Jimmy Reky masih hidup tapi dia dalam keadaan kritis!!” Lyla berseru. “Sial! Jadi Reky hampir mati, apa yang harus kita perbuat!!? Ahli siasat kita tidak ada!” Jimmy histeris. Lyla menunjuk kusarigama yang sedang memantul-mantul, “tenang sebentar lagi susunan Kusarigama Reky akan rampung setelah itu musuh akan terkalahkan dan Reky bisa kita sembuhkan bersama! Dengan sihir tentunya. Kita sudah boleh menggunakan sihir! Asalkan musuh disini sudah kita habisi!!”
Buak! Silva menabrak punggung Lyla dia terpental akibat tusukan dua duyung musuhnya musuhnya juga terpental jauh karena tangkisannya, napas Silva memburu kelelahan, “Lai tolong bantu aku! Sialan duyung-duyung ini kuat sekali!!” Lyla menghela napas, “Hhh beginian sih bisa ku...” Lyla melakukan kuda-kuda jurus barunya. Sementara itu susunan jebakannya sudah selesai. Lyla menyadarinya dan langsung memanggil Nana, mengumpulkan teman-temannya.
Nana mementalkan musuhnya sejauh mungkin dan dia menghampiri Lyla. “Ada apa Lai? Rencana B?”
“Ya. Begitulah. Ini rencana Reky, tapi aku tidak begitu mengerti. Jebakannya lain dari yang tadi, lebih luas aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat dengan jebakan ini?” jebakannya memang luas, bentuknya seperti pagar ring tinju. Jalur-jalur sea thorn mengait dari satu karang kekarang lainnya seperti membatasi suatu area yang berbentuk segi tujuh. Lyla menoleh kekiri dan kekanan mencari-cari maksud jebakan itu, sementara ketiga duyung yang tersisa sudah menyiapkan serangan baru. Silva tampak menyadari sesuatu dan menunjuk sebuah simpul yang menyatukan sabit dengan lima jalur sea thorn, “Disana!! Aku tahu, potong disana maka semua sea thorn ini akan membelit siapa saja yang berada di area yang didalam.”
Tanpa basa-basi Nana segera melemparkan pedangnya dan memutuskan simpul itu. Jalur-jalur sea thorn tertarik seperti karet dan akhirnya belitan segi tujuh itu menciut dan menuju ke satu titik. Lyla cs segera meloncat ke atas agar tidak ikut terbelit sementara duyung-duyung itu terkena jebakan dengan sangat sempurna.
Lyla cs kemudian mendatangi ketiga duyung yang terikat itu. Lyla sangat murka dan melakukan kuda-kuda untuk melakukan jurus andalan barunya. “Kalian... kalau Reky sampai mati aku tidak akan memaafkan kalian, Haaaah!!”
Lyla mengeluarkan jurus berputarnya, Thunk! Buih-buih gelembung bertaburan setelah Lyla mengeluarkan jurus andalanya , setelah buih-buih itu menghilang, terlihat disana para duyung sama sekali tidak terluka dan tombak Lyla tertahan oleh suatu dinding transparan yang terdiri dari susunan segi enam yang saling menempel. “Whrlewhlrewhrle!! Whrlaku dhrliplrerclraya uwrlhnthruk mhrlembrghlawa jhrimlhrat phrlindhrung ihrlni ohrleh rhlaja, khrlian thrk ahrlkan bhrisarl mhrelmbrhelah khrrami!!!” salah satu duyung itu tertawa penuh kemenangan.
“Dhrlan lhragi shrlea thrn sreephrlti ihrlni bhrlishra khrlephrskrhn dhrlngrhn chrlprlht!!” duyung yang terlihat paling berotot terlihat meregangkan tubuhnya dan sea thorn yang mengikatnya sedikit demi sedikit menipis.
“Sh*t, what are we gonna do now!? They’re so strong!!” Jimmy mengepalkan tinjunya. Semua menatap para duyung dengan pandangan kesal dan mereka menggenggam senjata mereka erat-erat. “Easy, we can do something if we’re believe that all of us will still be alive. C’mon dont be so upset! Mostly, we can steal that pendant from the mermaid so we can slash them!” Nana, Lyla, dan Jimmy mengangguk.
“Whrlawhrlawhrla, Irts nhlrots thrlahts earhlshry bhrloyhrl!!” duyung yang mempunyai jimat tertawa sementara sea thorn yang membelit para duyung terlepas. Anak-anak segera menyerbu para duyung dan para duyung pun segera menyerang anak-anak.
Pada saat seperti itu gempuran bola sihir yang cukup besar menyerang mereka, para duyung dan anak-anak. Bola sihir itu seketika melenyapkan para duyung, tapi tidak melukai anak-anak sama sekali. Ledakan pun sama sekali tidak terjadi hanya melenyapkan, melenyapkan para duyung.
“Soul strike! Itu soul strike, High magic element soul yang terkenal sangat sulit dikuasai!!” Nana menjerit histeris. “Siapa kira-kira yang menolong kita dengan sihir semengerikan itu!?” mereka saling berpandangan.
“Siapapun itu, mau sensei kek, mau kakak kek, yang penting sekarang Reky butuh pertolongan, ayo semuanya.” Lyla menunjuk ke karang tempat Reky diistirahatkan. Mereka akhirnya menemui Reky keadaannya sudah sangat mengkhawatirkan.
Mereka menghampiri Reky dan melihatnya terbaring lemah sementara darahnya sudah tidak mengucur lagi wajahnya pucat, melihat keadaanya semua orang pastilah tahu, dia sudah mati. Lyla menghampiri Reky pelan-pelan dan kemudian mengguncangnya, “Reky! Reky! Reky bangun! Jangan pura-pura! Bercandamu kali ini keterlaluan!” Lyla menangis, Nana juga menangis, Jimmy dan Silva hanya menahan air mata mereka sedikit-sedikit, setitik-setitik.
“Ky... bilang ini bohong, kau tidak mungkin mati... KAU TIDAK MUNGKIN MATI KAN!!? KAU TIDAK MUNGKIN MATI!! KAU SUDAH BERJANJI PADAKU SAMPAI AKU MENYELAMATKANMU KAU TIDAK MUNGKIN MATI!!” Lyla menjerit histeris bagai orang kesetanan, sementara Nana meraung dibelakang. Suara yang dingin mengagetkan mereka, suara ini bahkan terasa sedingin mayat. “Kalau sudah mati biarkan saja, masih banyak yang akan mati.” Mereka semua menoleh dan melihat sosok kecil yang memakai syal tebal sampai menutupi setengah bagian mukanya. Mereka mengenalinya sebagai Katzbalger Lichtvoll sesama murid di sekolah mereka dan teman sekelas mereka.
Silva berteriak, “Katz kenapa kau ada disini?” Lyla langsung menghampirinya dan mencengkram kerah bajunya, “APA MAKSUDMU HAH!!? KAU TIDAK LIHAT KEADAAN REKY!? DASAR BRENGSEK!!!” Katz hanya diam saja dan pandangan matanya yang lemah menatap Lyla dengan tajam, “Kalau hanya diam disini menangisi orang mati yang lainnya akan mati. Nantinya setelah kau menangisi orang-orang lain yang mati kau akan mati. Lalu orang lain menangisi engkau dan mereka akan mati. Terus saja mati, mati, mati, mati...” Katz bicara dengan ekspresi tak berubah Lyla bergetar dan melempar Katz, dia jatuh terjerembab, “HENTIKAAAN!! Hhh, hhh, kau, kau, kau tidak tahu apa yang ada dihatiku!!” Lyla berteriak histeris.
“Tahu kok, karena ayahku, ibuku, kakakku, adikku, saudaraku, pamanku, pembantuku, tukang kebunku, prajurit-prajurit ayahku, prajurit pribadiku, semua orang yang dulu berhubungan denganku mati.” Katz bicara dengan ekspresi tak berubah, semua terdiam. “Mereka mati karena menangisi kematian ayahku. Dasar bodoh, orang mati kok ditangisi. Toh mereka tidak ada disinikan.” Lyla bergetar, “Mak-sud-mu aku orang-bodoh yang-mau mati??? DASAR BRENGSEK MEMANGNYA MENANGISI ORANG MATI SALAH DAN BISA MEMBUAT ORANG MATI???”
“Nanti kau juga tahu sendiri...” Katz berbalik dan mengucapkan sesuatu ke Silva dan Nana meminta digabungkan dalam usaha penyelamatan. Lyla mengangkat tombaknya dan menusukanya kearah Katz. Silva melihatnya, “Lai!! Mau apa kau!!?” Zuuung! Tombak itu terhisap masuk kedalam tubuh Katz dan kemudian tubuh Katz bercahaya putih pucat, sihir. Lyla terduduk, “Kau mempunyai soul elemen?? Sulit mati??” Katz melirik Lyla, “Ya, akulah yang membunuh duyung-duyung itu, mata yang bersinar waktu itu juga aku.”
“Lalu kenapa kau tidak menolong kami waktu itu!!?” Lyla menjerit. Katz menutup matanya, “Karena waktu itu kalian belum ada yang mati.” Hening, Lyla menunduk dan menangis dia merintih pelan, “Apa maksudmu? Menonton kami sekarat??” Silva bergetar menatap Katz, Jimmy hanya melayangkan pandangannya kearah lain, Nana mendekatinya dan menamparnya, “KAU BILANG TADI MENANGISI ORANG MATI ADALAH BODOH. LALU KAU! MEMBIARKAN ORANG MATI LEBIH BODOH TAHU!!!” Nana menangis sambil menjerit histeris.
“Maaf, hanya saja aku tidak bisa bertarung jika tak ada orang mati. Urusanku hanya berada diantara orang mati. Pedangku... adalah orang mati.” Semuanya terdiam, Silva menepuk pundak Katz, “Hhh terima kasih Katz, tapi bila keadaannya seperti itu kau tidak bisa berada diantara kami. Kami bukan orang yang membiarkan orang terbunuh, apalagi membunuh orang. Kau—maaf—bahkan tidak pantas untuk menolong orang. Selamat tinggal. Aku, tidak mau bertemu denganmu lagi.” Silva berjalan, “Ayo semua kita harus menolong yang lain.”
“Tunggu dulu!! Silva biarkan dia ikut kita!” Nana menahan Silva, “Dia sepertinya bisa melakukan sesuatu, karena... mungkin dia bisa membantu karena jika ada yang mati lagi... dia bisa memanfaatkan itu.” Silva memandang jijik Nana, “Kau, itu cara yang menjijikkan.” Nana membalasnya, “Daripada mati begitu saja lebih baik mati sambil menolong.”
“Kalian, daripada begitu tubuh Reky sudah tak ada lagi. Dia menghilang.” Jimmy berada di samping Lyla di tempat tubuh Jimmy terbaring, Lyla menggenggam sebuah surat, dia bergetar membacanya. Nana dan Silva terkejut.
“Kenapa Lai!!? Apa duyung-duyung itu membawanya!!?” Silva menghampiri Lyla, dia melihat Lyla menunduk lesu, sambil menggenggam erat surat itu ditangan kanannya. “Tidak, bukan itu...” Lyla bergumam. “Lalu apa!!?” balas Silva.
“Ini...” Lyla tetap menunduk, semua orang memperhatikan Lyla dengan tegang, “surat dari... KAKAK!!!” Lyla mengangkat wajahnya dan langsung memeluk Jimmy di sebelahnya, berdiri dan memeluk Silva. Nana tercenggang, dan Katz mengangkat alis.
“Whaaaaa!! Senangnya!! Ternyata Reky belum mati!!” Lyla bersorak penuh semangat. “Apa mana mungkin!” Nana dan Katz mendatangi Lyla, Nana menarik-narik tangan Lyla ingin melihat surat itu juga, “Coba kulihat!”
“Nih lihatlah!” Lyla menyodorkannya kepada Nana, Jimmy dan Silva berdesakan ikut melihat, Katz juga berusaha melihat namun pundaknya ditahan oleh Lyla, “Kau tidak boleh lihat.” Lyla menarik Katz ke belakang, Katz hanya menutup matanya dan membalikkan badan. Secara diam-diam Lyla memakai mantera sihir yang ia buat hanya dengan gerakkan jari saja kearah punggung Katz.
Kalau kau yang memiliki soul element tak bisa mati, berarti kedua kakakku yang memiliki element ‘chaos’ pun tak bisa mati. Tapi saat kau terancam dengan kematian, kau akan berlega karena pada akhirnya kau bisa mati, Katz ucap Lyla dalam batin.
Nana membaca surat itu dengan serius dan tercenggang melihatnya, Jimmy dan Silva juga terbelalak. “Jadi begitu ya!! Ternyata begitu Reky sudah berada ditempat yang aman.” Nana bergumam. Isi surat itu berbunyi,
Kepada kalian,
“Kepada Lyla, Nana, Silva, dan Jimmy, kalian pasti kaget dengan semua kejadian ini. Teman-teman kalian ditawan, serangan duyung-duyung, Reky mati. Tapi tenang kalian pasti bisa menyelesaikan semuanya. Soal Reky dia belum mati dan sudah berada di daratan bersamaku. Maaf aku tidak bisa membantu kalian. Aku tahu kalian merasa aku tidak adil atau tidak sayang kepada kalian, tapi hal ini dikarenakan karena beberapa hal yang, aku pun mengenggapnya brengsek. Untuk lebih jelasnya segeralah kepermukaan, caranya? Tentu saja dengan menyelesaikan semua ini. Berjuanglah!
Salam sayang
Kira
Semua terdiam dan mengambil napas. Sejenak mereka saling bertatapan dan menahan senyum. Nana melompat dan kemudian Silva mengikutinya, Jimmy hanya tertawa lega. “Hahaha jadi sebenarnya kita dibantu dari belakang oleh Kira dan Kyra senpai ya? Sepertinya pekerjaan jadi lebih mudah.”
“Memang, setidaknya kita jadi bisa berpikir kalau kita pasti bisa kembali ke daratan.” Lyla mengangguk. Silva tersenyum, Jimmy mengernyit seperti sedang memikirkan sesuatu, Katz hanya menutup telinga dan memejamkan mata. Jimmy lalu mendongak dan menatap permukaan, “Tapi persoalan apa yang menghalangi mereka untuk kesini menolong kita? Apa—“ Silva menyambungnya, “Sepertinya persoalan menjadi lebih jelas sekarang.” Nana memandang penuh rasa ingin tahu.
Silva memandang Katz, menghampirinya, dan melepas tangannya dari telinganya. “Hei, kau pantas untuk mendengar hal ini. Walau kau itu sangat mengesalkan, dan menjijikan, tapi mau bagaimana lagi, kau juga murid para guru sialan itu kok.” Jimmy mengangguk, “Ya kau benar Sil, para guru itu tentunya yang sengaja membiarkan kita mengalami hal seperti ini.” Silva melirik Jimmy dan berjalan ketengah anak-anak, “Jadi Kirio sensei dan Pearl sensei sengaja mengirim kita kesini untuk, ya sebut saja uji nyali. Tujuannya? Mengetes seberapa jauh kemampuan kita atau hanya untuk bimbingan mental. Mereka menganggap kita pantas mati untuk itu!!” Silva menekankan nada suaranya.
…………………………..
Semua hanya menutup mulut, Katz melongo pandangan matanya kosong, dia bergumam, “Aaa, keterlaluan.” Dia mengucapkanya dengan datar. Semua menoleh kewajahnya.
“Ternyata kau punya rasa simpati juga ya??” Nana tersenyum tipis. Katz melayangkan pandangan ke arah lain berusaha untuk tidak menatap Nana. Nana menutup mata dan meletakan tangan di dada, dia bergumam “Hmm ya bagaimana pun juga kita sudah berusaha sampai sini. Semuanya, walau kalian mengetahui suatu kenyataan yang menyakitkan, bukankah itu sebenarnya adalah suatu hal yang harus disyukuri? Pikirkanlah, setelah ini kita mungkin jadi bertambah kuat, lebih dewasa, dan terlabih lagi pengalaman yang berharga melawan duyung bersama teman-teman!!” Nana tersenyum tipis.
“Ya? Mungkin cuma kau yang berpikir begitu, Na. Karena bagaimanapun juga pasti cuma kesal yang terukir dalam dada.” Lyla menyilangkan tangannya. Nana mendesah, “Lai sebenarnya kau cuma sebal karena Reky dibunuh kan?” katanya. “Hmm, ya kurasa begitulah.” Lyla membalik tubuhnya, dia membatin huh kau ini inosensia amat sih pastilah kita semua kesal. Setelah semua kejadian ini kau bilang kita harus bersyukur. Aku tidak bisa bersyukur! Aku marah! Aku bahkan ingin membunuh Pearl dan Kirio sensei. Aku marah bukan karena Reky, aku marah karena semuanya!! Semua yang mereka lakukan, aku, aku, marah kepada semua orang yang didaratan!!! Mereka tidak meno—
Plok, plok, plok, Katz menepukan tangannya, “Hebat, kau bukan orang yang mempersulit diri.” katanya dengan datar. “Tentu saja karena buat apa kita menambah masalah, sekarang saja kita masih mempunyai masalah kan? Kalau kita membalas Pearl dan Kirio sensei nanti masalah kita akan bertambah dan yang pasti dendam kita tidak akan selesai.” Nana membalas Katz. Silva, Jimmy, dan Lyla melongo.
Hehehe mungkin kau memang benar. “Ya sudahlah, ayo kita maju! Anna dan yang lainnya masih menunggu!! Katz kau juga!” Semua tersenyum dan berenang dibelakang Lyla, Katz menyusul paling belakang dengan pandangan yang sedikit melunak, dibalik syalnya yang tebal tersungging sedikit senyuman.
***
Di daratan Pearl dan Kirio sensei sedang merawat Reky di suatu gubuk dekat Life Lake. Reky dibaringkan telanjang dilantai dengan hanya memakai kain di daerah selangkanganya. Lingkaran-lingkaran rune menyelubungi seluruh tubuhnya sampai melingkari lantai disekitarnya, lingkaran-lingkaran rune itu berpusat di dahi dan dadanya. Lingkarannya membesar, yang paling kecil mulai dari ulu hati dan terus membesar mengelilingi porosnya sampai yang terbesar, dua meter dari tubuh Reky dan terukir dilantai. Di dahi, mata, dan luka diperutnya ada lingkaran kecil yang memotong jalur lingkaran yang berporos dada. Di lingkaran terluar dari poros dada diletakan enam buah lilin, tujuh buah pedang, dan sembilan buah permata
Kirio dan Pearl sensei duduk bersila di luar garis-garis terluar, menempelkan kedua telapak tangannya, dan merapal mantera, seluruh tubuh mereka berkeringat dan wajah mereka tampak kelelahan. Setelah beberapa saat mereka membuat 8 segel tangan dan melempar sebuah pecahan yang berkilau kebiruan dengan cara seperti melempar koin, dengan jempol mereka. Pecahan itu melayang dan bertemu di udara, pecah tak berbekas dan menjadi kumparan sinar biru pucat. Sinar itu kemudian turun dan masuk kedalam dadanya setelah itu dari mata, dahi, dan luka diperutnya mengeluarkan cahaya. Tubuh Reky kejang satu kali. Cahaya-cahaya itu redup. Kemudian huruf rune dari luka diperutnya berubah menjadi benang-benang yang seperti otot, kulit, dan lemak. Benang-benang itu memenuhi lubang besar itu dan menutupnya tanpa bekas. Dari matanya muncul biji putih seukuran seukuran kacang hijau yang bersinar redup. Huruf rune di sekitar mata berubah menjadi benang-benang kepompong yang bersinar dan membungkus biji tersebut. Huruf rune di dahi Reky sendiri berputar-putar mengelilingi tubuh Reky.
Pearl dan Kirio sensei menghapus keringat mereka dan bangun, mereka menuju meja dengan dua kursi dan duduk disana. Kirio mengangkat segelas kopi dan menenggaknya sampai habis, “Haaah, sudah kuduga pasti ada yang mati.” katanya sambil menggenggam surat yang sama dengan yang diterima oleh Lyla cs. Pearl terduduk lemas di kursinya. “Hhh ritual ini sangat melelahkan dan juga mahal, Resurrection Shard itu sangat mahal harganya. Kalau membeli Ressurrection Stone memang tidak perlu memasang ritual segala tapi harganya itu lho.” katanya.
“Yaah daripada kita mencarinya atau membuatnya. Kita bisa mati lho kalau mencarinya, apalagi membuatnya. Lagipula semoga kita tidak menggunakan sphere ini terlalu banyak.” Kirio mendesah. Pearl tersenyum menatap dan memegang tangan Kirio, “Ya, lagipula mereka sudah kita anggap anak-anak kita sendiri kan?” katanya Kirio memejamkan matanya, “Ya, sebetulnya aku juga tidak mau melakukan hal ini. Tapi apa boleh buat Master Lenoria Cleafe dan Master Alviss Loctus sudah meramalkan hari itu. Mereka harus melakukan hal ini dulu sebelum bisa menjadi harapan kita semua,” Kirio melepaskan kacamatanya dan menatap Pearl, “Semoga anak-anak kita bisa melalui semua cobaan itu ya.” Katanya. “Ya, tentu saja sayang.” Mereka berdua kemudian berciuman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar