Sabtu, 09 Juli 2011

Adventure 01: The Beginning


Di tengah malam yang sedang hujan lebat, seorang anak perempuan di sebuah kastil yang sangat megah sedang menangis. Ia menangis seperti teriakan anak kecil yang permennya direbut orang. Anak itu kira-kira berumur sekitar enam tahunan. Ia sedih karena ia ditinggal mati Ibunya. Ayahnya yang merupakan seorang raja tidak dapat menemaninya. Ayahnya hanya peduli pada kedudukannya. Yang dapat menemaninya hanya Ibu seorang. Namun kini beliau sudah tidak ada .
Ia bersama Guardian Summon peliharaannya yang berasal dari makhluk penjaga Holy terus menangis. Anak itu mengunci dirinya dalam kamar bersama Guardian Summon peliharaannya, Hikari Dama. Anak itu bernama Lyla Shinny Yamato atau dipanggil Lyla. Untuk sementara itu ia dibiarkan seperti itu oleh Ayahnya.

Setahun kemudian Ayah Lyla menikah lagi dengan Ratu Diana. Ratu Diana terkenal dengan kecantikan dan keramahannya, tetapi akhir-akhir ini terdengar kabar bahwa Ratu Diana mengincar Lyla untuk dibunuh. Saat itu Lyla sedang tidak berada di istana. Ia sedang berada di sekolah khusus untuk para calon penyihir di seluruh dunia. Lyla saat ini berumur tujuh tahun. Ia berada dalam bimbingan dua orang guru khusus bernama Pearl dan Kirio. Mereka berdua hanya mengajar untuk 21 orang.
Para murid-murid khusus itu selain Lyla seperti Reky pangeran dari Kokuryukirin Kingdom, Nana putri dari C.A.R.E atau Cosmos Alliance for Reslocation of Emancipacy, Anna dari Celicareins Kingdom, Shyna dari Schutzengel Queendom, Katzbalger anak laki-laki yang tersisa dari Tipereth Kingdom, Rifky dari Kingdom of Smithery Vesuvius, Aldo pangeran dari Ancient Kingdom of Runethia, Dennis pangeran kedua Rozaline Kingdom, Herzen putra pemimpin Mondfintenise Kingdom, Jimmy putra pemimpin Argrisse United, Seira putri kedua dari Raihi Kingdom, Dain dari Nazaret Raisedear Kingdom, Ryana dari Eisenvalshverne Kingdom, Silva penerus dari Verda Kingdom, Stevi dari Jiyuu Kingdom, Jane dari Ravenblut Kingdom, Daithy dari Ideasentences Kingdom, Desya dari Ruttenschwert States, Fabilla dari Hollenstein Kingdom, dan Kairi dari Randia Kingdom. Sebenarnya ada 2 murid sangat khusus yang tidak lain adalah dua kakak Lyla, Kira dan Kyra yang sama-sama dari SchwarzKreuz Kingdom.
Lyla dengan Reky, Nana, Anna, Shyna, Rifky, Herzen, Jimmy, Aldo, Dennis, Seira, Dain, Silva, dan Kairi adalah teman sejak kecil. Saat Lyla kehilangan ibunya hanya teman-temannya itu yang dapat menemaninya. Kedua kakaknya yang kembar itu juga sangat sedih apalagi saat kedudukan ratu digantikan oleh Ratu Diana. Kira dan Kyra tahu bahwa Ratu Diana mempunyai sifat yang sangat buruk. Mereka melindungi adik mereka dengan cara membuat Lyla mau masuk ke asrama di akademi penyihir asuhan Master Alviss Loctus dan Lenoria Cleafe yang memegang peranan besar dalam dunia para penyihir. Lyla tahu bahwa saat ini ia tidak sendiri, ia mempunyai teman-teman, guru-guru, dan kedua kakak yang menyayanginya.

Suatu hari setelah dua tahun Lyla bersekolah disana bersama kakak-kakaknya dan teman-temannya. Lyla pergi ke Life Lake bersama 23 orang murid khusus dan kedua gurunya. Mereka akan pergi mempelajari sihir tingkat tinggi. Tentu tidak secepat itu mereka mengusainya, tetapi tidak untuk si kembar, Kira dan Kyra. Mereka langsung bisa saat melihat kedua gurunya. Entah apa karena mereka jenius atau ada sesuatu yang lain yang lebih mengkhawatirkan.
Kira dan Kyra langsung disuruh menyelam ke danau. Tentu saja mereka juga sedikit kawatir akan keselamatan mereka. Apa lagi sang adik, Lyla ia lebih menghawatirkan kakak–kakak daripada pelajaran ia sendiri. Tetapi Kyra mengatakan agar tidak menghawatirkan mereka berdua tapi tetap saja Lyla khawatir. Tentu saja karena ia pernah kehilangan sesuatu yang paling berharga baginya.
“Apa kakak akan baik - baik  saja ya?”, kata Lyla berbicara sendiri. “Aku pasti tidak apa-apa kok, tenang saja!” Kata Kira pada Lyla. “Itu benar, jadi tenang saja Lyla” Kata Kyra sambil mengusap–usap kepala Lyla. Ia lalu menatap ke salah seorang anak kemudian tersenyum.
Setelah itu si kembar langsung menyelam, tetapi sebelum itu Kirio mengatakan akan menolong bila terjadi sesuatu di dalam Life Lake .
“Sebaiknya kau fokus saja pada sihir tingkat tinggi ini , lagian kakakmu ‘kan sudah mengatakan dia akan baik-baik saja” Kata Reky pada Lyla. “Bener tuh kata Reky, mereka pasti gak akan kenapa–kenapa” Kata Nana menambahkan. “Lagian kamu terlalu kawatir” Keluh Anna pada Lyla. “Ya jadi ………. BELAJAR Lagii!!!” Teriak Reky. Mereka berusaha menghibur Lyla yang terus-terusan khawatir.
 “Oke anak-anak seperti yang telah kuberitahu tadi kepada Kira dan Kyra, kalian harus menyelam untuk mengambil mutiara kerang Jonah. Langsung kembali setelah kalian mengambilnya. Jangan main-main, ini bukan hal yang bisa jadi bahan candaan.” Ujar Kirio.  Pearl mengelilingi mereka, melihat kesiapan dimata masing-masing anak, ia mengcungkan jarinya, “Siaaaap.... mulai.” Ia berkata pelan.
Akhirnya mereka menyelam juga, ke segala arah, menggelengkan kepala mencari kerang itu, yang paling kesusahan adalah Lyla. Sebenarnya dia tidak tahu sama sekali, bagaimana atau, apa itu Kerang Jonah. Dia bermaksud bertanya kepada Reky di dalam air, “Rblekblblbly, ahblbllk. (Sial aku tidak bisa bicara dalam air)!!” Reky menjawab, “Apaan?” Lyla terkejut, “Balghk!!!Blblbl!!!” Lyla tampak menderita, Reky menggelengkan kepalanya dan memberikan cahaya kecil kepada Lyla, “Bodoh banget, k’lo gak pake sihir air mana bisa mencari benda sekecil itu. Lama-lama kau bisa kehabisan napas.” Lyla menunduk malu, Reky menggelengkan kepalanya lagi, “Haaah, aku tahu kalau kau sebegitu traumanya, tapi jangan membahayakan dirimu sendiri dong.” Lyla makin menunduk, Reky terdiam, “Maaf, yang penting...” sambil mengacungkan jempol dan tersenyum, “Semangat, oke!!?” Lyla tersenyum dan melaju bersama Reky di air.
Gerombolan itu akhirnya bertemu di satu titik dekat pasir di dasar danau. Lyla dan Reky yang datang terakhir bertanya kepada mereka, “Ada apa ngumpul-ngumpul gini?” Ujar Reky, “Pasti ada Kerang Jonah kan?” Tebak Lyla. Anna mengangguk, “Ya, Shyna yang menemukanya.” Shyna menawarkan kerang itu kepada yang lain, “Ada banyak, kalau kalian mau ambil sa—“ tiba-tiba dari atas, sesuatu seperti javelin meluncur,  menancap, dan meledak.
Shyna manjerit, “Kyaa!! Apa—apa itu.” suara Pearl menggema di kepala mereka, “Hoii, satu titik untuk satu orang! Maaf, aku lupa memberitahukan kepada kalian, satu orang membawa seluruh kerang di satu titik, jadi maaf ya kalian tidak bisa berbagi. ^_^ Selamat Shyna!! Yang lain berjuang yaa!!” Mereka semua terpaku, bukannya bergembira mereka melongo dan berteriak, “APAAAAA SEMUAAA?”
Shyna merunduk, “Bagaimana cara membawanya? Sebanyak ini pakai sihir juga susah! Aaah pada akhirnya aku harus mengangkatnya juga...” Shyna mengeluarkan jaring-jaring sihir dari tangannya, Herzen menangkap pundak Shyna, wajahnya memerah, “Biar kubantu.” Herzen memalingkan muka
 “Apa, sungguh!!?” Seru Shyna, “Bagaimana dengan bagianmu Herz?” Herzen tambah memalingkan mukanya, “Ituu..nanti juga bisa.  Sekarang...e-e-l-ladies first dulu.” Mata Shyna berbinar, “Waa, kau baik sekali Herz terima kasih ya. Ayo, kita angkat... tapi, ini bukan untuk aneh-aneh kan?” Herzen terkejut, “Hah! Bukan, tentu saja bukan!! Aku tulus kok!” Shyna berpandangan sinis, “Kata-kata ‘tulus’ itu yang makin membuatku tidak percaya... kau mengharapkan bayaran ya!!” Herzen menunduk lesu seakan berkata ‘maksudku bukan itu’.

Sementara Herz dan Shyna ribut sambil mengangkat buntalan kerang Lyla dan Reky menggelengkan kepalanya sambil pergi menjauhi mereka, “Dasar orang kasmaraan.” Reky bergumam, Lyla menanggapi, “Herzen iya, tapi Shyna tidak suka dengan Herzen.” Reky tersenyum, “Bukan tidak, tapi belum, hahaha dengan sikap seperti itu mungkin Shyna akhirnya jadi suka sama Herz.” Lyla melawan, “Eeeh nggak juga kok, justru kalau didekati seperti itu cewek jadi nggak suka lho.” Reky tiba-tiba membalik arahnya dan menghadap ke Lyla sambil agak bercanda, “ Ooh jadi selama ini aku bikin kau sebel ya? Maaf deh, tapi aku emang sengaja kok! Hahaha!” Lyla mendengus, “Huh, gak lucu tahu lagian gak bener, aku kan gak pernah membencimu...” Lyla seperti tersadar dan menutup mulutnya, Reky mengernyit, “Itu... artinya apa?” Lyla langsung menggoyangkan tangannya, “Bukan, bukan apa-apa kok. Maksudku aku tidak bisa membencimu soalnya nanti jadi monster lagi kayak dulu...” Lyla tersenyum mengejek sambil memalingkan muka, seakan mengingat kejadian lampau, “APAAA!! Yang waktu itu kan aku gak sengaja numpahin ramuan monster, gak sengaja! Bukannya kesel terus pengen jadi monster!!” Lyla tertawa, “Ahahaha... monster, monster! Dasar monster, hii aku ta—“ dari belakang Nana dan Anna muncul, “Jangan pacaran aja!” Lyla dan Reky terkejut, “KYAAA!! Sia—ooh ternyata kalian.” Lyla berteriak, “Bodoh!!! Aku kaget tahu!!” Anna menjulurkan lidah, “Ehe, maaf ini si Nana pengen ngejutin katanya.” Nana tertawa keras, “Bwahahaha, tertangkap basah saat pacaran.” Reky menyangkal, “Oiiiii!!! Sudah dibilangin berapa kali kita itu gak pacaran dan aku benci dia!!” Lyla sedikit terkejut, lalu menggeram, “Aku juga benci!!!” suasananya menjadi hening.
Nana lalu mengalihkan topik, “Eee anoo kalian, sudah menemukan kerang-kerang itu?” Lyla kemudian menanggapi, “Hm? Oh belum tapi aku sudah mendeteksinya—dengan sihir tentunya” Anna berbinar, “Sugeee! Lyla memang pintar.” Reky menambahkan, “Ya, pintar ngebo’ong.” Lyla mengernyit, urat di kepalanya menonjol, “Kauuu... mau kujadikan rendang?” Reky membalas, “Memangnya, sate bisa ngomong?” Dua-duanya kemudian saling geram, Nana kemudian juga mengernyit, “Kaliaaan...BISA BERHENTI BERANTEM GAK!!!” Lyla dan Reky kemudian menoleh tajam ke arah Nana. Nana tampak takut dengan pandangan Lyla dan Reku. Anna kemudian menunjuk sesuatu, “Oi itu kerangnya bukan?” Seakan terselamatkan Nana langsung menunjuk-nunjuk juga, “Iya,iya itu-itu kerangnya jangan berantem lagi ya...”

Muka  mereka berdua kemudian melemas, Reky bergumam, “Yaa... ngapain juga kita berantem toh gak ada juntrungnya k’lo kerangnya udah ketemu.” Nana menyambungkan, “Benar-benar daripada berantem lebih baik kita sekarang menentukan siapa yang harusnya membawa kerang ini.” Lyla tersenyum, “Aku sih... sudah pasti kalian duluan. Silakan jika ada yang mau.” Reky bergumam, “Aku tidak.” Nana juga, “Aku juga tidak.” Anna mengangkat tangannya, “Ano, ano bagaimana kalau... hompimpa?” Mereka semua melongo, “Hom-pim-pa?!” Anna mengangguk. Lyla menggeleng, membuang muka, dan tersenyum tak yakin, “Ide yang buruk... lebih baik jangan.” Anna menunduk.
Kemudian ada seruan yang mengubah raut muka Lyla dan Nana, “OIII!! Disitu sudah ketemu yaa?” Lyla membatin, “(Dua orang itu lagi... Stevi dan Jane) ...Yaa memangnya kenapa!!?” Kedua orang itu mendekat, orang yang berambut pendek lurus (Stevi) berseru, “Ternyaaata!! Memang kamu ya Lai-chan? Haaaa! Sudah ketemu?? Hebat kau memang paling pintar...” Lyla menghela napas, Nana mengernyit dan berseru, “Hei! kalian mau ada apa lagi sama Lyla hah? Kalau ke—“ Lyla memotong, “Nana! ...huh! Kalian... kalau memang mau kerangnya ambil saja...” Orang yang berambut lurus panjang tertawa (Jane), “Ohohoho!! Terimakasih yaa! Sampaikan salamku untuk ibu mu!!” Nana terbelalak. Dia berteriak, “KALIAN!! MINTA MA—“ Lyla memotong, “TERIMA KASIH!! TERIMA KASIH TELAH MEMUJIKU TADI!!” Dua orang itu terdiam, Jane tersenyum sinis “Hehh, kau memang tidak asik ya... dasar cengeng. Ibumu itu... dekat ya...” Kedua orang itu seraya mengambil tumpukan kerang membalikkan muka, mereka berbisik, “...sial!” mereka kemudian pergi menuju permukaan.
“Kau! Tadi itu... KENAPA TIDAK KAU SERANG SAJA MEREKA!!” Reky berteriak, Lyla menunduk “Maaf...aku... ibu mereka tinggal di kastil lain dan... aku tahu penderitaan mereka. Mereka melampiaskanya dengan...—“ Reky memotong, “Bukan urusanmu!! Kau mempunyai penderitaan yang lebih jauh!! Kau—“ Nana menambahkan, “Lylaaaa!!! Bodoh,bodoh kau itu kalau bertemu mereka selalu, selalu, dan selalu memaafkan. Kau... kau mempunyai teman. Kau bisa kabur dan biarkan aku membereskan mereka lain kaliii!!” Nana berkaca-kaca, Anna menghela nafas, “Hhhh... seharusnya tadi aku langsung mengambil kerang-kerang itu ya.” Anna bergumam, “Baiklah kalau begitu, karena aku membuat kesalahan aku akan minggat. Biarlah aku jadi penghangat suasana, aku menggangu kan? Yaa, ayo kalian yang semangat!! ” Selesai Anna berbicara semua melongo.
“Pfff fufufffhfpphbbh-bh-Bwahahahaahahhhaaahaha!!! Kau itu masih lemot juga ya Ann!! Saat seperti ini kan bukannya menjauh tapi malah mendekat!! Seharusnya tadi kau bilang ‘Lyla nanti waktu menentukan siapa yang ambil jangan bimbang lagi ya. semangat! Semangat!’ gituuuuu!!.” Nana yang mengerti cara menghibur hati—gara-gara Lyla—terpingkal, Anna melongo, “Gi-gitu ya? Maaf... maaf ya Lai! Tadi mungkin aku menyinggungmu!!” Anna menunduk dalam, Lyla tersenyum, “Fufufu gak apa-apa kok Ann. Kita semua tau kok tadi itu kamu bermaksud menghibur hatiku.” Anna mengangkat kepalanya perlahan dan tersenyum, Lyla berseru, “Semua! Biarkanlah yang tadi, ayo berangkat!!” Tiga orang itu mengangkat tangan dan berseru, “OOO!!!” mereka menjauhi titik kerang itu, mereka terus mengobrol sambil berenang, tampaknya Anna menyarankan untuk bernyanyi.
Ternyata dari tadi ada anak yang diam-diam mengikuti mereka dari belakang pandangannya lesu dia berbisik, “Mereka gawat...”
Keempat anak itu terus berenang sambil bernyanyi, Anna bersuara paling keras, “Sing... sing out song. Make it simple to last your whole life...“  mereka bernyanyi kencaaang sekali, suasana begitu ceria Reky lalu berteriak, “...SING OUT SOOOOONG!!” setelah itu deburan sesuatu yang meluncur mengejutkan mereka. Mereka berhenti, Nana berseru, “A-apa itu tadi!!” sambil tetap melayang di tempat Reky menjulurkan tangannya seakan melindungi mereka semua, “Hati-hati... tampaknya tadi berbahaya...” Mereka makin merapat, Lyla memajukan telapak tangannya, “Kalian semua berisaplah untuk mengeluarkan sihir kalian...” Hening mereka menunggu kedatangan sesuatu itu.
Tiba-tiba dari tengah-tengah mereka seseorang muncul, Anna, Nana, dan Lyla menjerit, “KYAAAAAA!!” Reky berteriak, “SI-SIAPA KAU!!” orang itu menaruh jari telunjuk di mulut, “-Shhhh ini aku, Silva. Maaf aku datang dengan cara seperti ini, kalian sedang diincar.-” Anna berbinar, “Kyaa!! Silva! U-u peluk! Aku kangen!” Silva mengerutkan kening, “-Shhhhhhhh!! Anna maaf. Tapi saat ini kita tidak boleh bersuara keras-keras. makhluk itu mengikuti kita lewat suara.-” Reky terkejut, “-Saint kau bilang tadi... suara... jangan-jangan duyung?-” Silva menjawab, “-Benar... karena itu, tugas ini berbahaya. Aku mengikuti kalian karena ingat karakter orang ini.” Silva melirik Anna, Anna menggaruk kepalanya dan menjulurkan lidah, “-Ehe maaf. Aku tidak tahu kalau menyanyi itu berbahaya. Aku tidak akan menyanyi lagi deh seumur hidupku-“ Semua menundukan kepala, seakan mengatakan ‘bodoh banget sih’.
“-Bodooh! Maksudnya bukan begitu!! Di danau ini memang tidak boleh!! Tapi pada awalnya kan kau memang tidak tahu apa-apa!!-” Nana berseru berbisik.
“-Sudahlah kalian, daripada begitu... tampaknya aku melihat sesuatu.-” Lyla menunjuk ke arah di depannya.
“-APA! MANA?-“ Semua berteriak pelan, dua buah titik terang yang mencurigakan menyala dikejauhan. Anna, Reky, dan Nana spontan menembakan sihir api ke arah cahaya itu. Zrrrrsh, Wuuurng, bola api kecil menyambar. Belum juga bola api itu mengenai target tiba-tiba muncul, dari belakang lelaki yang pandangan matanya kosong dan mempunyai sirip di sela-sela jari kaki dan tangan, dia membentuk pedang air dan membelah kerumunan anak-anak itu, Slaaash.
“Uwaaaagh!!!” Silva menjerit, dari bahu kiri sampai ke perut kananya robek. Mereka semua menoleh kearah Silva dan melihat lagi ke arah dua buah sinar itu, “(Tidak ada apa-apa. Bagaimana mungkin, tembakan api tadi benar-benar telak kok)!!” Lyla membatin, di tempat dua buah cahaya tadi terlihat bekas kawah.
“SILVAAAA!! TIDAAK!!” Anna menjerit, dia menghampiri Silva yang cedera, berjongkok, tangannya menjangkau luka torehan itu. Wuung, tangan Anna bercahaya dia menggunakan sihir penyembuh, “Heal! Heal! Heal! SILVA JANGAN MATI!!” Anna menangis, tangan silva terangkat dan mengusap kepala Anna, “Bodoh... aku tidak akan mati karena luka seperti ini—uhk—lebih baik berikan saja ‘ red blessing’ makhluk itu akan menyerang lagi.” Sang duyung menerawang menoleh kesana kemari seakan memeriksa satu demi satu mangsanya, anak-anak hanya terdiam ketakutan, ketika matanya sampai di Anna dia tersenyum, “Kiiik... KIIIIIIIK!!!” tangannya terangkat dia menebas lagi ke arah Reky, Nana, dan Lyla. Wuush, Reky menghindar, Nana meloncat, menghindar sambil memeluk Lyla. Mereka bertiga terjatuh saat menghindar, kesakitan.
Si duyung terlihat sebal dia menoleh kepada Anna. Terlihat Anna sedang memberikan ‘red blessing’ kepada Silva, “Silva! Sudah! Tapi lukamu? Apa tidak sebaiknya di—Kyaaa!” Bola cairan menyelubungi Anna, Silva berteriak, “ANNA!! Ukh lukaku!!” Silva mengangkat mukanya dan menggeram, “Lihat saja makhluk brengsek!! Aku puluhan kali lipat lebih kuat gara-gara ‘blessing’ ini!! Fire Axe!!” Dari tangannya muncul kapak api, walau ukuranya kecil tapi bentuk dan mata kapaknya kompleks.
“Haaaaa!!!” Silva menebas, sang duyung dengan mudahnya menghindar dan mementalkan Silva dengan sihir air, akhirnya untuk pertama kalinya duyung itu berbicara, “Huukhblbk klaliablk inkblink menklalabhlkblanku? Tunkblu Sberlatus tahblunk lblagi blanblak mlablnusibla.” Dia mengangkat Anna yang pingsan terbungkus dan berenang menjauh dengan cepat, Silva mengerang di pasir, “Siiaal! Tubuh! Ayol—uhk!! ...Kau bangsat laut! Kembalikan Anna!!”

Kaki Lyla menapak, “Tenang saja Saint. Anna itu sahabatku lho.” Wajah lyla mengeras, Silva mendongak terpana, disamping Lyla diikuti Nana. Reky menghampiri Silva dan menyentuh lukanya “Cure!! ...merasa lebih baik?” Reky nyengir sambil mengangkat jempol, dia menoleh ke arah Lyla dan mengernyit, “Gimana, ketemu?” Lyla menjawab, “Hm, dia tidak jauh, bisa kita kejar. ...Silva masih bisa melanjutkan? Anna tidak jauh.” Silva berdiri, “Yaa aku merasa jauh lebih baik. Walau masih sedikit sakit... Trims Reky.” Reky tersenyum, Lyla kembali berbicara, “Baguslah kalau begitu apimu paling kuat diantara kami, kau juga bisa melakukan sihir gabungan dengan Nana.” Nana tersenyum, “Kita coba High Magic yuk!? Dark Inferno lho? Pasti bisa ya!!” Silva terkejut sedikit dan menghembuskan napas, Lyla berseru, “Ayo, sebelum dia jauh. ...oh ya urusan kerang...” Reky bergumam, “Heeh itu juga masih dipikirin? Dasar bodoh, sekarang kan—.” Lyla memotong, “Hahaha sudah jelas aku bercanda! Kita tidak mau tegang kan?” Semuanya tersenyum. Mereka berenang dengan kecepatan tinggi menggunakan sihir air.

Tidak ada komentar: