Mereka dengan cepat masuk kedalam jangkauan renang si duyung. Disitu daerahnya berkarang dan gelap. Lyla bergumam, “Aku merasakan firasat buruk.” Yang lain mengangguk. Lyla menoleh ke sekeliling, yang lain juga. Pada akhirnya mereka menghentikan laju renang mereka dan berhenti. Nana bergumam, “Aku merasa seperti sedang diawasi... Lai apa kau tidak salah masuk jangan-jangan kita masuk ke sarang mereka?” Lyla menggelengkan kepala, “Hmhm!! Tidak aku benar-benar mendeteksinya! Dia ada di daerah sekitar sini...” Wurr, terdengar suara deburan. Nana menjerit “Kyaa!! ...Lai, aku takut!! Kalau benar Anna ada disini, ayo cepat!! Jangan buang waktu... Aku tidak mau kita diambil oleh duyung juga!!” Lyla tersenyum lesu, “Ya... ya... Ayo!!” Lyla mengambil ancang-ancang untuk meluncur Reky menyilangkan tangannya, “Hmm... saat seperti ini... apa ini juga ujian ya? Aku jadi bingung sebenarnya sihir tingkat tinggi seperti apa yang akan diajarkan, sampai harus mempertaruhkan nyawa begini? Kenapa Kirio Sensei dan Pearl Sensei tidak menolong kita?” Hening, tiba-tiba dari belakang mereka seseorang berbicara.
“Itu karena ujian ini adalah ujian yang menentukan apakah kita bisa mempelajari High Magic setelah ini.” Kaget, mereka langsung menoleh, Silva berteriak, “KAU!? JIMMY!!? Kau juga disini? Kenapa?” Jimmy memiringkan kepalanya, “Kalau kau tanya kenapa? Itu karena Dennis, Aldo, Rifky diambil duyung-duyung sialan itu. Mereka juga melukaiku cukup parah, jadi aku mau balas dendam.” Nana membelalak, “Kau bilang Aldo, Rifky, dan Dennis? Apa itu berarti yang lainnya juga banyak yang ditangkap?” Jimmy menatap lesu, “Ya, ada apa memangnya?” Reky mengernyit, “Kau tahu kenapa sensei tidak menolong kita?” Lyla menjawab, “Sudah jelas karena ini ujian kepercayaan... Ya kan Jimmy? Kalau kita tidak bisa menghadapi tantangan ini maka untuk selanjutnya kita tidak akan diajari High Magic atau bahkan diberhentikan sama sekali dari pelajaran... Karenanya kita tidak akan ditolong sama sekali.” Jimmy tersenyum lesu, “Kau cepat mengerti... Ya, memang begitu keadaannya. Aku tahu hal ini dari senpai-senpai di kelas khusus dulu.”
“Sial!! Jadi dari awal kita tidak diberitahu apa-apa tentang hal ini!? Dan harus begitu saja mengakhiri nyawa di tempat seperti ini!!? ...Sensei, apa mau kalian??” Reky menggeram, Jimmy menanggapi, “Ee, sebenarnya walau seperti itu ujian ini sama sekali tidak membuat kita terbunuh... Itu yang kudengar.” Silva berseru, “Aah sudahlah daripada terus diam disini ayo cepat!! Anna menunggu kita!” Semua menoleh kearah Silva, Silva berbicara lagi, “Kalau kataku ya... Mau ujian yang susah kek, mau kita terbunuh disini kek...” Hening sesaat.
“AKU TIDAK MAU!!” Silva, Lyla, Reky, dan Nana berseru bersamaan, menyadari hal itu mereka langsung tertawa, Jimmy hanya membuang muka. Lyla berbicara, “Hhh... yaa, kita semua tidak mau kalau kita terbunuh disini—apalagi dengan cara dimakan duyung—dan aku yakin Anna dan yang lainnya juga tidak ingin mengalami hal seperti itu. Pearl Sensei dan Kirio Sensei juga bukan guru yang akan meninggalkan murid-muridnya begitu saja—aku yakin tidak akan ada yang mati.” Mereka semua kemudian saling tatap, Jimmy menggerutu.
“Ayo kita selamatkan teman-teman!!” Mereka semua berseru serentak, Nana melirik ke arah Jimmy, “Jim, kau kenapa gak ikutan?” Jimmy membuang muka, “Konyol, aku males.”
“Hahaha!! Jimmy-Jimmy tidak berubah kau masih saja sok tua!” Reky tertawa, dia kemudian tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Jimmy tersenyum lesu menanggapi perkataan Reky. Lyla mengaktifkan ‘Aqua Booster’ dikakinya dan mengajak yang lainnya pergi yang lainnya juga melakukan hal yang sama, ‘Aqua Booster’ dikaki. Mereka kemudian melaju dengan kecepatan penuh.
Nana memuntir-muntir rambutnya seraya melaju, dia sudah tidak sabar, “Laaaii!! Sihir pendeteksimu itu ngadat bukan? Kok nggak ketemu-ketemu!!? Dasar... padahal aku sudah merasakan hawa-hawa aneh dari tadi.” Lyla berseru, “Iyaaaa sabar!! Ini juga lagi berusaha tahu!! Kamu tahu dari tadi makhluk itu berpindah-pindah terus kan? Aku juga bingung tahu!! Huh!” Lyla mengernyit dan mengembungkan pipinya, Nana menundukan kepalanya, “Ma-maaf Lai... a-aku...” Lyla memalingkan mukanya, “Hhh gak papa kok bukan salah kita kan?”
Sial aku itu kesal tahu!! Kau itu tidak tahu perasaanku sekarang ya Na? Aku takut...takut kalau akan kehilangan orang-orang yang dapat mengerti hatiku lagi. Walau... aku tidak mengerti mereka... Aku khawatir Lyla membatin.
“Oiii! Lyla! Oii! LYLAAA!!!” Reky berteriak kencang menyadarkan Lyla yang bengong, “Apaan sih? Berisik tahu! Lagian nanti kalau duyungnya datang lagi bagaimana?” Lyla menutup telinganya menoleh kebelakang ke arah Reky.
“Anoo begini Lai... aku dari tadi berpikir, apa sihir pendeteksimu itu hanya bisa mendeteksi satu benda atau makhluk saja?” Reky bertanya, Lyla hanya mengernyit, “Ha? Maksudmu? Ya memang, tapi kenapa bertanya seperti itu?” Reky menunduk sedikit memikirkan sesuatu, “Yaa... ternyata benar.” Lyla semakin mengernyit, “Haah? Apa maksudmu dengan ternyata benar?” Lyla seperti tersadar “Eh jangan-jangan?” Reky menghela napas, “Hhh ya benar... kau hanya mendeteksi duyung-duyung yang berlainan dari tadi, duyung yang membawa Anna, dari tadi sudah lepas dari pencarianmu.” Nana terkejut Silva dan Jimmy tersadar, Nana berteriak, “Jadiii dimana duyung yang membawa Anna!!?” Silva menjawab, “Dia sekarang entah dimana, karena ini sarang duyung.” Nana tersadar, “Jadi...!!” Jimmy menanggapi, “Ya... begitulah, kita seperti menebak-nebak secara acak.” Reky meneruskan, “Dari duyung yang satu ke duyung yang lain, makanya terlihat seperti berpindah dengan cepat.”
Nana menghentikan lajunya, “STOOOP!” semua berhenti. Lyla bertanya, “Kenapa Na?” Nana menjawab, “Anoo kalau memang ini adalah sarang duyung, seharusnya... seharusnya... kita berhati-hati.” Lyla mengernyit, “Kenapa Na? Terobos saja mudah kan?” Nana menundukan kepala, “Dari dulu aku... instingku selalu bagus. Tapi aku selalu dibilang penakut. Tapi... sekali ini percayalah padaku Lyla!! Ini berbahaya!!” Silva bergumam dibelakang, “Tidak, tidak akan... tidak akan berbahaya... percayalah!! Berbahaya memang... kalau kita berada disini tapi tidak akan berbahaya selama ada teman-teman dan Sensei di sisi kita bukan?” Nana mengangkat wajahnya, “Benar juga...” matanya berbinar, “Kita bisa!! Pasti bisa jika bersama-sama!! Lagipula sensei pasti tidak akan membiarkan anak didiknya terbunuh kan?” Lyla tersenyum,”Yaa karena sudah jelas mari kita jalan lagi. Sekarang paling tidak kita harus bisa menangkap salah satu dari para duyung itu.”
Akhirnya mereka mengitari wilayah karang gelap itu berdasarkan peta posisi duyung-duyung itu, yang dibuat oleh Lyla. Lyla mencari kedalam gua-gua gelap, Nana mencari di celah-celah karang, Reky mencari di selimut pasir, Silva di jurang kecil, dan Jimmy di puncak-puncak tebing karang. Setelah semua selesai mencari mereka berkumpul di salah satu tebing karang yang peling tinggi. Lyla memulai pembicaraan, “Yaah... apa kalian sudah menemukan duyung-duyung itu?” Reky memiringkan kepalanya, “Sudah, sudah kucari dari pasir yang palsu sampai kepada pasir-pasir yang benar-benar pasir sekalipun... mereka tidak ada.” Lyla ternganga, Nana menyilangkan tangan, “Anehnya Lai, setelah kuperiksa jejak-jejaknya sepertinya disitu memang tadi ada duyung—wanita lagi—karena kulihat bekas sisik ikan dan jejak tangan manusia.” Lyla mengernyitkan dahi berpikir. Silva menjatuhkan diri untuk duduk Jimmy terlihat cemas, Jimmy bergumam, “Seandainya, seandainya mereka... duyung-duyung itu memang sengaja membuat permainan seperti itu untuk... sesuatu yang aneh... seperti misal, memancing kita agar bisa tertangkap di tempat Aldo dan yang lain...” Lyla menoleh dengan kasar ke arah Jimmy, “HAL ITU TIDAK MUNGKIN!!! Karena sekarang ini duyung-duyung itu masih berada ditempatnya semula hal itu... semua yang kalian katakan tidak mungkin!!” Lyla terengah-engah. Hening sesaat, Reky membuka mulutnya, “A-a Lai kau tidak... mungkin dipengaruhi oleh mereka kan?” Lyla membelalak matanya menatap ruang kosong.
Sial... bagaimana ini? Ini lah hal yang paling tidak ingin kupikirkan saat ini. Mereka... para duyung itu membodohiku dan Anna serta yang lainnya menghilang dan kami tidak bisa mengejarnya. Aku-aku... ah bodoh!!! Reky berseru, “Lai! Tenang saja walau kau sekarang tidak bisa mendeteksi mereka lagi, tetap tenang. Kita masih punya mata telinga dan insting Nana. Kita pasti bisa melacak Anna dan yang lain.” Lyla menunduk namun matanya masih menatap ruang kosong, “Ya, ya. Ya Reky... yang kukhawatirkan sekarang cuma apakah nantinya akan aman-aman saja? Aku menjadi takut karena sekarang aku tidak bisa lagi mendeteksi jalan didepan sana...” Silva maju mengangkat tangannya, “Yaa... kalau dibilang berbahaya pasti berbahaya Lai. Tapi apa kau masih ingat baru saja kuucapkan.” Lyla tersadar seraya mengangkat mukanya dan menatap Silva, “Aah benar juga. Kita akan selamat.” Silva nyengir.
“Shhh kalian jangan bergerak aku merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan disekitar sini...” Nana menutup matanya sambil meletakan jari telunjuk dibibir. Mereka semua bersiap dengan telapak tangan siap menembakan sihir api, bola-bola kumparan energi sihir api sudah memanas dan membuat air dibagian itu mendidih. Semua anak melihat ke sekeliling dengan waspada. Dari atas sedikit permukaan seorang anak yang memakai baju hangat sampai hampir seluruh mukanya tertutup syal mengamati, bibirnya tersenyum, “Fufufu menyenangkan ya...”
Semua anak tegang, akhirnya semua merasakanya, bukan hanya Nana. Sesuatu sedang mendekat, dan sesuatu itu besar, atau mungkin banyak. Kadang-kadang Reky atau Nana mematikan kumparan api karena terlalu lelah, mengeluarkan MP terus menerus. Mereka, terus bersabar dengan formasi bundar tanpa celah ditengah. Mengantisipasi serangan seperti kejadian penculikan teman-teman mereka. Jimmy mulai mengeluh, “Cewek... apa instingmu betul? Aku mulai sangsi nih.” Nana mengernyit, urat dikepalanya muncul, “Apa katamu...\_/+ apa lagi yang perlu diragukan hah!!? Memngnya kamu pernah lihat hantu? Tiba-tiba melihat masa depan bahwa ujianmu akan jadi jelek dan merasakan bahwa kamu dikuntit seseorang yang terus menerus menerawang kearahmu bahkan ditoilet sekalipun?? Tidak pernah kan!!? Aku itu punya pengalaman yang sangat banyak dengan hantu, masa depan dan orang-orang aneh!! Lagipula kau sudah pernah mendeteksi serangan kan? Masa tidak menyadari? Hawa aneh itu kan serangan sihir!!! Jelas pasti ada sesuatu dasar... MATA LESU BIBIR BENGKOK!!!!” Jimmy hanya menarik pipi dan alis saat mendengar celotehan menusuk dari Nana, “Ka-ka-kau... APA MAKSUDMU TADI!!?”
Nana tersenyum sinis, “(Kena!) Itu, maksudnya kau begitu sok coolnya sampai-sampai mata dan bibirmu itu terus bengkok sampai susah untuk membukanya.” Jimmy tampak shock dan setelah Nana ber’hohoho’ Jimmy menunduk lesu seperti mayat hidup. Reky dan Lyla hanya menggeleng, Lyla membatin itu dia keluar jurus pamungkasnya ‘Nana’s deadly words’ bahkan jika ada orang yang pendiriannya tidak kuat pasti akan bunuh diri... aku pernah kena sekali dan... aku jadi seperti mayat hidup selama seminggu.
Sementara Nana semakin menindas Jimmy, Silva yang tidak mendengarkan apa-apa dari tadi dan hanya melihat sekeliling berteriak, “DATANG!!!” Seketika semua menjadi serius—Jimmy langsung mengangkat wajahnya, matanya ada celak. Mereka semua melihat didepan Silva sekitar 100 meter, serangan sihir air yang besar—sepertinya mid magic—meluncur dengan cepat. Mereka semua mengangkat tangan dan menembakan bola sihir api “FIRE BALL!!!” Mereka semua berseru serentak. BUUUUGHRR!!! Tembakan mereka tepat mengenai mid water magic itu. Namun busa gelembung dan debu pasir berterbangan sehabis tabrakan.
“YEEEEAAAH!!!” Reky, Nana, dan Lyla bersuka cita. Silva mengangkat tangannya, “Jangan senang dulu tadi itu cuma satu tembakan mungkin setelah ini duyungnya sendiri yang akan datang.” Semua mengernyit dan menyiapkan sihir berikutnya, Nana mengeluarkan Dark Magic, Jimmy Bold Magic, Silva Fire Magic, Lyla dan Reky berpandangan, “Tampaknya sudah waktunya untuk mengeluarkan ‘itu’ ya?” ujar mereka serentak. Mereka berdua membentuk Magic Crest bintang segi tujuh dengan telunjuk dan, CRIING! Tubuh mereka berdua tampak bersinar, semua bagian muka mereka terbuka seluruhnya mata mereka membelalak dan dari mata itu muncul sebuah biji kecil berwarna putih seukuran kacang hijau, biji itu kemudian pecah dan mengeluarkan sesuatu yang seperti makhluk berbulu yang ukuranya sebesar bola voli.
Baik Reky dan Lyla kedua mahkluk yang keluar dari mereka berwarna putih. Perlahan-lahan setelah kedua mahkluk tadi keluar cahaya yang menyulubungi mereka berdua memudar dan kesadaran mereka kembali, mereka kemudian langsung menoleh mencari-cari. Mahkluk-makhluk itu menyadarkan letak mereka di belakang dengan memberi salam, “Salam tuanku Rekya ada apa gerangan tuanku memunculkan hamba Sen Ma dengan wujud battle mode?” Mahkluk-makhluk itu memang kecil-kecil seperti kelinci namun di dahi mereka mencuat tanduk yang seperti huruf s dan zirah pundak jepang yang menempel di ‘pundak’—karena hanya seperti pundak (mereka berbentuk bulat). Ekor mereka panjang sampai menyentuh tanah dan terlihat seperti tulang punggung dari besi yang pipih di ujungnya terdapat bagian seperti pedang yang sangat tajam.
Mahkluk yang satu lagi memberi salam kepada Lyla, “Selamat sore tuan putri Lyla hamba Hikari Dama sangat senang hari ini dipanggil dalam wujud battle mode. Ada urusan apa sampai tuan Rekya pun mengeluarkan Sen Ma?” Reky dan Lyla tersenyum, Lyla mendekatkan mukanya ke arah Hikari Dama, “Maaf tapi sekarang genting Hikari mau kan membantu sedikit saja?” pipi Hikari Dama memerah, “Te-tentu saja tuan putri. Apa sekarang musuh yang merepotkan?” Lyla menjawab, “Ya, cukup. Berkerja samalah dengan Sen Ma ya? Aku juga akan ikut bertarung... Hikari ini bukan latihan, ini keadaan yang sebenarnya.” Hikari Dama tampak terkejut dan langsung matanya menjadi tajam dan berwarna emas, bergitu juga yang terjadi dengan Sen Ma di sebelah. Suara Hikari Dama berubah dari suara gadis imut menjadi suara wanita dewasa yang tegas, “Hamba Siap sebagai Guardian Summon Lyla Shinny Yamato untuk membasmi musuh. Serahkan pada hamba.” Sen Ma yang tadi bersuara seperti bocah imut sekarang bersuara seperti pria ganteng nan gagah, “Hamba siap sebagai Guardian Summon Rekya Fate untuk membasmi musuh. Hamba pastikan musnah semua.” Silva menoleh dan bergumam, “Hmph GS ya? Pilihan bagus Lai, Ky. Tapi hati-hati saja jangan sampai GS kalian mati... Nanti kalian juga mati.” Lyla menatap Silva dari belakang, “Tenang saja Guardian kan Guardian pasti akan selalu lebih kuat dari tuannya.” Mereka semua kemudian menatap ke arah tembakan mid water magic tadi dan memasang kuda-kuda dengan mantap.
Setelah debu pasir dan busa gelembung hilang mereka terkejut. Tidak ada duyung disana hanya ada—sepertinya—kertas melayang yang dilindungi bola water shield magic. Mereka semua terdiam tidak ada yang bicara. Reky membuka mulut terlebih dulu, “Anoo apa sebaiknya kita hancurkan saja benda aneh itu?” Jimmy bergumam, “Nanti meledak siapa tahu itu Aqua Bomb—kalian tahu kan? Itu High Magic yang sanggup menghempaskan satu kastil. Kira Senpai pernah mengeluarkanya.” Mereka semua membayangkan waktu Kira membantu Lord Corryell untuk menghancurkan salah satu kastil bekasnya, waktu itu batuan kastilnya sampai menjadi serpihan. Akhirnya semua menjadi sangat hening. Lyla angkat bicara, “Bagaimana kalau lumayan didekati dulu? Kalau bisa memeriksa apakah benar itu berbahaya atau tidak kita bisa memikirkan tindakan selanjutnya.” Semua menoleh ke arah Lyla, “Reky berbinar, “Ide yang bagus Lai!! Kau memang yang terbaik!!” Reky nyengir sambil mengacungkan jempolnya. Lyla menunduk pipinya memerah, Uuh Reky... kamu... te-terimakasih.
Silva mengangkat matanya seakan menanyakan, mulutnya bergerak, “Siapa yang akan ke sana?” Hening. Jimmy mulai bergumam lagi, “Hhh aku takutnya kalau ada En (Field) nya atau Kanten (Room of Sky) nya. Kalian tahukan? En atau Kanten itu—“ Nana memotong, “Iyaa tahu! Itu detect field kan? Yang kalau benda apapun yang masuk kedalam wilayah itu maka magic itu akan langsung aktif. Cih, kau ini, begituan mah langsung saja di...”
Nana melemparkan batu ke arah sekeliling bola itu, semua anak dan GS terbelalak cemas, Pluk! Batu itu mendarat ditanah, persis di samping bola melayang itu!! Nana tersenyum menang, “Nah bagaimana mulut bengkok, benar kan kata—“ Nana terheran-heran melihat semua yang terengah-engah Jimmy berteriak, “OOOII CEWEK BODOH!! BAGAIMANA KALAU TERNYATA BENERAN ADA EN-NYA DAN ITU AQUA BOMB!!? KITA BISA MATI TAHU!!!” Jimmy terlihat sangat marah. Reky dan Silva mngangkat wajah sampai menatap permukaan, Lyla terkapar di pasir sambil menutup matanya, dia menangis, Hikari Dama tampak bingung.
“Hu-hu-hhuuaaaa!! Aaaaangngng! Hu-u-uuuuuuu! Ku-hik-kukira ka-kalian hik akan mati! Aku tidak hik ingin ada yang mati lagi!! Uh-uhhuhuhuuu!!” Nana menunduk, dan berjalan menuju Lyla dia berjongkok dan merangkul Lyla, dia juga menangis, “Maaf, maafkan aku Lai! Aku u-u aku hanya tidak ingin kita menghabiskan waktu dengan berdiam diri disini! Tidak ada waktu untuk ketakutan hanya karena benda kecil seperti itu kita semua harus bersatu untuk menyelamatkan Anna dan yang lainnya. Ingat... walau aku tahu kita masih anak-anak namun selalu teguhkan kata-kata Silva, ‘Tidak ada yang berbahaya jika kita bersama teman-teman’ Ya? Ya?”
Anak-anak lelaki hanya terdiam mendengar tangisan para gadis, Silva bergumam, “Bagaimana mungkin? Aku melupakannya secepat itu padahal aku sendiri yang mengucapkanya...” Reky membalas, “Hati kita semua ternyata masih dirundung kegelapan dan ketakutan.” Jimmy menunduk, “Sial aku... terlalu takut.” dia berjalan ke arah bola yang menjadi sumber masalah, dia kemudian melihat bahwa di dalamnya ada surat.
“H’h!h’h! Snif! Snif! Kau-kau benar Na. Terimakasih telah menyadarkanku. Kalau aku takut kalian mati disini maka ketakutan itu akan benar-benar terjadi. Aku harus berani kalau mau teman-temanku tidak mati ya kan?” Nana tersenyum “H’h hikz! srrt! Ya... begitulah.” Silva dan Reky menghampiri Lyla, Reky mendekap Lyla dan mencium keningnya, “Lyla!! Maafkan aku karena selalu mengkhawatirkanmu!! Aku-aku berjanji akan selalu melindungimu sejak hari ini!!!” Lyla bersemu merah, “H’hik... Re-ky kau? ...Ini perjanjian Guardian kan?” Reky tersenyum, “Tentu saja. Memang kau pikir pernyataan cinta? Bodoh!”
“Hmph Hahahaha!” Semua tertawa, Nana berseru, “Nah! Ayo kita mengikat janji saling melindungi mulai saat ini untuk selamanya!!” Silva, Reky, dan Lyla berseru serempak, “YA!!!” Nana mengangkat tangan, “Eh tunggu, Jimmy kau juga kesini dong!! Jangan terus merasa bersalah begitu. Kita kan teman!!?” Nana melambai-lambaikan tangan kepada Jimmy yang sedang membaca isi surat tersebut. Jimmy berteriak, “YAAA AKU IKUTAN PERJANJIAN ITU KARENA ITU SINI SEBENTAR OII!!” Nana mengernyit, “Memangnya ada hal apa?” Teriak Nana, “Penting sekali!!” Jimmy menyahut. Lyla menatap Nana, Reky, dan Silva, “Ayo kita kesana.” Ajak Lyla.
Setelah mereka melihat isi surat itu mereka terkejut bukan main. Reky menggengam surat itu erat-erat, “Mereka, mereka masih hidup dan sekarang terancam. Ini dari Aldo kan Jim?”
“Ya. Tidak salah lagi.” Jimmy mengkonfirmasi, “Cuma dia yang mampu melakukan hal seperti ini—mengirim sihir berisi surat kepada orang tertentu. Kemampuan sihirnya luar biasa.” Silva menyilangkan tangan, “Jadi bisa dibilang mereka mempunyai semacam penyegel sihir.” Semua terdiam Lyla mengangkat wajahnya, “Yang jelas sekarang kita harus pergi ketempat yang ditunjukan surat ini.” Nana megangkat tangan, “Tunggu isi surat ini kan ‘Kalian yang masih tersisa mungkin kalian telah menyadari bahwa disini duyung-duyung telah menangkap kami. Tolonglah, kami disekap disini dari isi pembicaraan mereka sepertinya kami akan disantap. Tolonglah, surat ini kukirim dari tempat persembunyian—“ Lyla memotong, “Langsung saja Na apa yang mau kau tanyakan?”
Nana bersemu merah merasa malu panjang lebar, “Ehm begini, disini kan dikatakan ‘Untuk masuk kedalam dungeon kalian harus memecahkan teka-teki ini dan mengucapkan password dari jawaban teka-teki itu ‘manusia yang dikanan membunuh duyung tidak akan pernah menjadi duyung sementara duyung hasil manusia dikiri menjadi duyung karena membunuh duyung’ aku tidak mengerti kalimat ini—bukannya sama saja. jadi pecahkanlah mohon tolong kami’ ...Begitulah Lai... aku juga tidak mengerti! Bukanya sama saja? Artinya manusia manapun kalau membunuh atau tidak membunuh duyung tetap akan jadi duyung kan?”
“Hmm Aldo yang jago puzzle saja tidak bisa memecahkanya... berarti ini memang sulit.” Jimmy bergumam. Silva juga, “Hmm dipikir bagaimanapun juga walau IQ kita memang rata-rata 120 keatas dan berpikiran dewasa... tapi aku tetap tidak mengerti...” Lyla tersenyum, “Heh ini mudah saja.” Yang lain terkejut, “Apaa!!!” Lyla tersenyum, nanti saja ya kutunjukan, sekarang kita pergi menuju ke markas mereka saja.
*** ***
Di daratan sedang berdiam Kirio dan Pearl Sensei, Kira dan Kyra, Shyna, Stevi, Fabilla, Kairi, dan Ryana. Berarti yang belum naik adalah, Lyla dengan Reky, Nana, Anna, Seira, Dain, Silva, Katzbalger, Rifky, Herzen, Jimmy, Aldo, Dennis, Jane, Daithy, dan Desya. Kirio dan Pearl Sensei sedang melihat keadaan anak-anak lewat layar sihir, mereka berdua tersenyum, menikmati tontonan itu ditepi danau sementara Shyna dan Kairi geram disamping mereka.
“Sensei!! Tolonglah mereka!! Mereka kini sedang kesulitan!! Jangan cuma diam disitu saja!!” Shyna berteriak. Kairi memprotes, “Kalau cuma duduk-duduk diam disini juga, aku bisa!!” Anak-anak lainnya hanya ketakutan, menangis sambil mencemaskan teman-teman mereka yang lainnya. Stevi dan Fabilla menangis memikirkan Jane dan Daithy, “Jane...hikz, Daithy... apa kalian akan baik-baik saja?”
Ryana sambil menghapus air matanya maju menghampiri Kirio Sensei, dia menceburkannya ke danau. Semua orang sangat kaget, Kira dan Kyra hanya mengangkat wajahnya sedikit. Kirio kemudian naik lagi sambil kesal, Ryana menangis sambil berteriak, “KALAU SAMPAI TERJADI APA-APA PADA REKY AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU!! MESKIPUN KAU ADALAH GURUKU AK—“ Pearl menyihir Ryana sehingga tak dapat bergerak, membeku.
“Diamlah sedikit...” Kirio melihat para murid. Shyna dan Kairi tampak bersiap mengeluarkan magicnya, Jane dan Daithy berpelukan sambil menangis, Kira dan Kyra berdiri dan menimbang-nimbang tongkat sihirnya seakan mengancam akan mengeluarkan sihir kapan saja. Kirio akhirnya melihat Pearl. Pandangan mereka semakin menguat dan akhirnya keduanya membisikan sesuatu, mantera telepati.
Pearl membatin, “(Kirio... bagaimana ini kita tidak bisa membiarkan mereka seperti ini kita harus menenangkan mereka!)” Kirio membalas, “(Tidak bisa Pearl, kalau begini mereka tidak akan mendapatkan latihan mental yang sebenarnya!)” Pearl membalasnya dengan lebih keras, “(Tapi mereka akan melakukan hal-hal yang diluar jangkauan kita bila seperti ini!)” sedikit ketegangan tiba-tiba suatu suara muncul dibenak mereka, “(Tenang saja sensei...)” mereka terkejut mencari siapa pengguna telepati itu.
Kira dan Kyra angkat bicara, “Oi! Shyna, Kairi! Turunkan tangan kalian!” Shyna dan Kairi mengernyit menatap Kira dan Kyra, Kira mendesah, “Haah, dengar, ini perintah! Kalian ingin mereka selamat kan?” Shyna dan Kairi terdiam dan perlahan-lahan menurunkan tangan mereka. Kirio dan Pearl Sensei terlihat lega.
Kirio melemparkan pandangan pada Kira, “Tadi itu kau ya?” Kira mengangkat alisnya dan memejamkan mata, mengiyakan. Kyra tersenyum dan berkata, “Kami sudah tahu maksud kalian, dan juga, kami tidak terpengaruh oleh rencana kalian.” Pearl membalas senyumannya. Kirio mendengus sambil tersenyum, “Jadi... apa mau kalian? Memberitahukannya kepada yang lain?”
Kira menggeleng, “Bukan, bukan kalau begitu mereka hanya menjadi sedikit lega atau malah cuek sama sekali dengan mereka yang ada dibawah. Yang mau kami lakukan adalah,” Kyra menyambungnya, “Rencana kami sendiri. Tentu saja dengan tidak meninggalkan nilai-nilai yang ingin kalian berikan.” Kirio menunduk menatap tanah dengan kosong. Dia kemudian tersenyum, “Ya sudahlah... terserah kau. Aku tahu kau nyaris melebihiku Kira.”
Shyna dan Kairi hanya terheran-heran mendengar percakapan mereka. Kira tersenyum ceria ke arah mereka, “Jadi... kalian mau masuk dan menolong mereka semua?” Kairi langsung memasang pose, “Ya tentu saja!! Reky ada disana! Yang lain juga sangat membutuhkan pertolongan!!” Shyna menyilangkan tangan, “Tentu saja, Lyla dan Nana sedang kesusahan disana!! Lagipula aku punya hutang kepada Herzen!!”
Kirio tersenyum, “Bagus, berarti kita siap berangkat ya? Ayo kita tolong mereka!” Mereka berdua tersenyum cerah, Shyna melompat lompat kegirangan. Kira tersenyum mendengus. Suara tangisan terdengar dibelakang, Kira menoleh, terlihat Kyra sedang membujuk Stevi dan Fabilla yang duduk terisak.
“Tidak, tidak apa-apa kok! Jane, Daithy dan Desya pasti bisa kita selamatkan. Mereka juga pasti sedang menangis memikirkan kalian... kalian akan menjemput mereka kan? Kalau kalian tidak menemui mereka, mereka akan terus menangis, dan kalian juga akan terus menangis. Tidak akan ada yang bahagia bila seperti itu. Temuilah mereka dan berikan keberanian.” Kyra meyakinkan mereka berdua, Stevi dan Fabilla.
Stevi sambil terus terisak berbicara, “Tapi-hikz-kami-hikz-takuuuut.” Kira menghampiri mereka dengan tatapan dingin, “Kalian... bukan teman-teman mereka,” Stevi dan Fabilla mendongak menatap Kira, Kira meneruskan, “Kalau hanya karena itu kalian tidak bisa menolong mereka—bahkan sekedar menghampiri saja pun tidak... kalian memang bukan teman mereka.”
Stevi menggeram, “Kau tahu apa!!! Kau tahu apa tentang persahabatan kami!!! Memangnya kau bisa menjamin bahwa mereka pasti meminta kami menolong mereka! Mereka pasti juga mengkhawatirkan keadaan kami kalau kami nekat menolong mereka!!!” Kira melepas kesabaranya, “KARENA ITU KALIAN TIDAK BISA MENJADI SAHABAT MEREKA DASAR TOLOL!!” semua terdiam.
Tidak diduga ternyata semuanya sudah mengelilingi Stevi dan Fabilla. Kyra memeluk Stevi dan Shyna memeluk Fabilla. Kira mendengus dan menatap para gadis dengan damai, Kyra sedikit menitikan air mata, “Stevi... sampai saat ini belum pernah aku mendengar seorang sahabat berbicara hal sekejam itu.” Stevi terbelalak, “Kyra sen—“ Kyra memotong, “Ssst... Stevi, maksudku bukan itu. Kau murni sahabat Jane, Daithy, dan Desya. Tapi... kalau kau berpikiran bahwa pertemuan adalah sesuatu yang tidak diinginkan kau salah. Justru karena pertemuan adalah kekuatan karenanya kau pasti bisa melewati ketakutan itu. Ingatlah, kau juga mendengarnya kan? Perkataan Silva; ‘Tidak ada yang berbahaya jika kita bersama teman-teman’ Jadi... temanmu sungguh-sungguh berharga kan?”
Stevi dan Fabilla berhenti menangis mereka melongo dan perlahan tersenyum damai, Kira tersenyum dan menangkap tangan Stevi dan membantunya berdiri, “Maaf ya, aku kasar tadi. Aku hanya mau menyadarkanmu saja.” Stevi tersenyum, “Tidak apa-apa Kira senpai. Aku sudah tahu sekarang kalau aku terus takut dan tidak melakukan apapun maka tidak akan ada yang terjadi. Aku harus berusaha untuk membuat banyak kekuatan lagi untuk menghadapi ketakutan dan kepesimisanku.” Fabilla bangkit dengan dibantu Shyna dan memegang pundak Stevi, dia bergumam, “Aku... juga.”
Shyna tersenyum dan menepuk tangannya, “Ya! Berarti... semuanya, AYO BERANGKAT!!!” Semua menyambut senyum Shyna dan berlari menuju danau dan meloncat terjun ke arah danau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar